Thursday, November 6, 2025

Menjadi Pengajar yang Mau Berubah

Tags

 



Menjadi Pengajar yang Mau Berubah:
Belajar dari "Re-Code the Leader" Rhenald Kasali

Oleh : Suryana

 

Dunia pendidikan, terutama pendidikan vokasi, sedang bergerak cepat. Teknologi, industri, bahkan cara belajar mahasiswa kini berubah dalam hitungan tahun bahkan bulan. Lalu, pertanyaannya: apakah dosen ikut berubah?
Dalam bukunya Re-Code Your Change DNA (2007), Rhenald Kasali menulis satu bagian yang menarik: “Re-Code the Leader.”
Bagian ini bukan hanya bicara tentang pemimpin organisasi, tapi juga tentang siapa pun yang memimpin proses perubahan termasuk dosen sebagai pemimpin pembelajaran.

1. Dosen Bukan Lagi “Sumber Segala Pengetahuan”
Dulu, dosen dianggap satu-satunya sumber ilmu.
Namun di era digital, mahasiswa bisa belajar dari mana saja — dari YouTube, e-learning, hingga forum profesional di media sosial.
Artinya, peran dosen harus bergeser: dari “pemberi tahu” menjadi “pemandu belajar” (learning facilitator).
Dalam konteks ini, Rhenald Kasali menyebut bahwa pemimpin yang tak mau berubah akan kehilangan relevansinya.
Maka, dosen pun perlu re-code cara berpikir:
“Mengajar bukan tentang menunjukkan bahwa kita tahu, tapi membantu mahasiswa menemukan caranya sendiri untuk tahu.”

2. Mengganti DNA Kepemimpinan: Dari Mengontrol ke Memberdayakan
Dalam subjudul Re-Code the Leader, Kasali menjelaskan bahwa pemimpin masa kini harus mendelegasikan, memberdayakan, dan mempercayai timnya.
Jika diterapkan di dunia pendidikan, itu berarti dosen harus mulai:
a. Memberi ruang bagi mahasiswa untuk mencoba dan bereksperimen,
b. Mengganti pendekatan “instruksi” dengan pendekatan kolaborasi,
c. Mendorong mahasiswa untuk belajar dari kesalahan.

Dosen yang re-coded tidak lagi sibuk mengontrol tugas, tapi menginspirasi mahasiswa agar berani berpikir kritis dan kreatif.

3. Dari Comfort Zone ke Learning Zone
Kasali menegaskan bahwa perubahan dimulai dari keberanian meninggalkan zona nyaman.
Bagi dosen, zona nyaman itu bisa berupa:
a. Metode mengajar lama yang tidak lagi relevan,
b. Kebiasaan ceramah satu arah,
c. Atau sikap merasa “cukup tahu.”
Padahal, mahasiswa sekarang hidup di dunia yang sangat cepat berubah.
Maka, dosen yang mau berubah harus terus belajar hal baru: teknologi pembelajaran, literasi digital, hingga tren industri terkini. 
“Pemimpin yang takut berubah, akan digantikan oleh yang berani belajar,” tulis Rhenald Kasali.

4. Lima Unsur yang Harus Dimiliki Dosen dalam Menghadapi Perubahan
Rhenald Kasali menyebut bahwa agar perubahan bisa berhasil, seseorang harus memiliki lima unsur penting: Vision, Skills, Incentives, Resources, dan Action Plan.
Mari kita lihat bagaimana lima unsur ini bisa diterapkan dalam dunia dosen vokasi
a. Vision (Visi)
Dosen harus punya pandangan jelas: “Mau dibawa ke mana mahasiswa saya?”
Visi ini bukan hanya tentang nilai akademik, tapi tentang membentuk lulusan yang adaptif, berkarakter, dan siap kerja.
Visi yang kuat menjadi kompas agar dosen tidak sekadar mengajar, tapi juga mengarahkan.
b. Skills (Keterampilan)
Perubahan menuntut keterampilan baru. Bukan hanya kemampuan mengajar, tetapi juga kemampuan mengelola teknologi, berkomunikasi digital, dan memfasilitasi pembelajaran kolaboratif.
Dosen vokasi perlu terus upskilling agar bisa menjadi mentor yang relevan.
c. Incentives (Dorongan atau Insentif)
Setiap perubahan butuh alasan untuk dilakukan. Bagi dosen, insentif tidak selalu berupa uang atau penghargaan, tetapi bisa berupa kepuasan profesional, rasa bangga melihat mahasiswa berhasil, atau peluang untuk berkembang dalam karier akademik.
d. Resources (Sumber Daya)
Perubahan tidak bisa berjalan tanpa dukungan sumber daya. Mulai dari akses internet, perangkat digital, hingga dukungan lembaga dalam bentuk pelatihan atau kolaborasi industri. Institusi pendidikan harus menyediakan ekosistem yang mendukung agar dosen bisa benar-benar berubah.
e. Action Plan (Rencana Tindakan)
Terakhir, perubahan tidak akan bermakna tanpa tindakan nyata. Bagi dosen, ini bisa diwujudkan lewat langkah sederhana:
a. Mendesain ulang RPS agar lebih kontekstual,
b. Mengintegrasikan proyek industri dalam pembelajaran,
c. Melibatkan mahasiswa dalam kegiatan inovatif.
Perubahan kecil yang konsisten akan menciptakan dampak besar.

5. Menjadi Pemimpin yang Menginspirasi
Dalam pandangan Kasali, seorang pemimpin sejati adalah mereka yang menggerakkan, bukan hanya mengarahkan. Dosen sebagai pemimpin pembelajaran juga harus bisa menyalakan semangat mahasiswa, bukan sekadar memberi nilai.
“Pemimpin sejati tidak hanya bicara perubahan, tapi menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.”

Refleksi Seorang Pendidik Vokasi
Membaca kembali tulisan Rhenald Kasali membuat saya berpikir:
kita, para dosen vokasi, sedang berada di garis depan perubahan. Kita bukan hanya mengajar keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan karakter adaptif dan kreatif. Kalau dunia industri terus berinovasi, maka dunia pendidikan juga harus menyesuaikan DNA-nya. Dan perubahan itu, seperti kata Kasali, harus dimulai dari pemimpinnya yaitu kita sendiri.

“Re-code your teaching DNA.
Karena yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling cepat beradaptasi.”
Rhenald Kasali (2007)


Referensi
Kasali, Rhenald. (2007). Re-Code Your Change DNA. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
(Bab: Re-Code the Leader, hlm. 125; dan Five Elements of Change).



Suryana, Pendiri Menata Jejak Dalam Kalimat, Catatan Pengalaman Baca profil Suryana selengkapnya, klik di sini...

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :


EmoticonEmoticon