CERITA DARI DAPUR HOTEL
Setiap semester selalu ada masa yang saya tunggu-tunggu: mendampingi mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL). Ada rasa campur aduk ,antara bangga, haru, dan sedikit cemas. Karena di masa inilah, mahasiswa benar-benar diuji bukan lagi oleh dosen, tapi oleh realitas kerja.
Tahun ini, saya mendapat amanah membimbing empat mahasiswa yang melaksanakan PKL di salah satu hotel di Bandung. Dua orang berasal dari konsentrasi Pastry, dan dua lainnya dari Culinary Art. Mereka menjalani masa PKL selama enam bulan penuh, berpindah dari dunia kampus yang nyaman ke dapur profesional yang serba cepat, presisi, dan penuh tuntutan.
Sebagai pembimbing, saya diwajibkan melakukan kunjungan, pada saat kunjungan biasanya menjadi momen perkenalan:saya datang ke hotel, bertemu dengan HRD Hotel, melihat langsung bagaimana mahasiswa beradaptasi, serta mendengar pengalaman awal mereka. Di kunjungan itu, saya selalu mulai dengan satu pertanyaan sederhana:
“Bagaimana rasanya belajar langsung dari dapur hotel bintang empat?”
Biasanya mereka tersenyum canggung, tapi mata mereka selalu berbinar. Rasa kagum, lelah, tapi juga bangga, semuanya bercampur jadi satu.
Pada
kunjungan juga saya selalu mengevaluasi kinerja, melihat bagaimana mahasiswa berkembang baik dalam
keterampilan teknis maupun sikap profesional.
Saya
berbincang dengan pihak hotel, meminta umpan balik tentang kedisiplinan,
inisiatif, serta kemampuan komunikasi mereka di tempat kerja.
Tidak
jarang, saya ikut menyaksikan langsung proses produksi, plating menu, hingga
koordinasi tim dapur saat service time.
Momen seperti inilah yang membuat saya sadar: apa yang mereka pelajari di kelas benar-benar hidup di dunia kerja.
Setelah
enam bulan berlalu, tibalah saatnya mahasiswa kembali ke kampus. Tugas mereka
kini adalah menyusun laporan PKL yang menceritakan seluruh pengalaman selama di
hotel mulai dari struktur organisasi, sistem kerja, menu yang dihasilkan,
hingga refleksi pribadi tentang proses belajar. Laporan itu tidak berhenti di
atas kertas. Mahasiswa diwajibkan memresentasikan hasil PKL dalam seminar, di
hadapan penguji dan saya sebagai
pembimbing. Namun ada satu hal yang membuat seminar ini selalu istimewa: mereka
juga harus membuat dan menampilkan produk hasil PKL sebuah kreasi yang mewakili
pengalaman belajar mereka di dapur profesional. Di momen itu, aroma butter,
cokelat, dan kaldu hangat mengisi ruang seminar. Mahasiswa dengan bangga
menjelaskan resep, teknik, dan cerita di balik produknya.
Para penguji mencicipi, memberi masukan, dan tentu saja memberikan apresiasi atas kerja keras mereka.
Bagi
saya, menjadi pembimbing PKL bukan sekadar tugas administrasi. Ini adalah
kesempatan untuk menyaksikan transformasi mahasiswa dari yang dulu gugup
memegang spatula, kini bisa bekerja dalam ritme dapur hotel yang sesungguhnya. Dunia
vokasi memang tidak pernah lepas dari praktik, kerja keras, dan kerja sama.
Dan
setiap kali saya melihat empat mahasiswa itu berdiri percaya diri di depan
ruang seminar, saya tahu: mereka tidak hanya belajar membuat makanan, tapi
belajar tentang kehidupan disiplin, tanggung jawab, dan profesionalisme.
“Pendidikan
vokasi adalah pendidikan yang hidup di dunia nyata.
Di
dapur hotel, mereka bukan sekadar mahasiswa
mereka adalah calon profesional yang sedang tumbuh.”
Salam sukses.... tetap semangat dan terus berkarya.

EmoticonEmoticon